A. Pengertian
Studi Islam
Istilah
studi islam dalam bahasa inggris adalah
Islamic studies, dan bahasa arab adalah
Disarat al-islamiyyah.
Selain
itu, kata studi islam sendiri merupakan
gabungan dua kata.yakni studi dan kata islam.kata studi memiliki banyak
pegertian. Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa studi adalah
kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksuduntuk memperoleh
keterangan, mencapai pemahaman yang lebih besar,atau meningkatkan suatu
keterampilan.
Sementara
mohammad hatta mengartikan studi yaitu,mempelajari sesuatu untuk mengerti
kedudukan masalahnya,mencari pengetahuan tentang sesuatu didalam hubungan sebab
dan akibatnya.
Kata
islam berasal dari kata aslama yang
berarti patuh dan berserah diri.Adapun pengertian islam secara terminology
yaitu wahyu allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,sebagai mana
terdapat dalam al-quran dan al-sunnah,untuk mencapai kesejahteraan dan
kedamaian hidup di dunia dan di akhirat.
Menurut
moh.Nurhakim ada 3 rumusan pengertian studi islam.pertama, pengkajian dan penelitian terhadap agama sebagai objeknya.kedua, materi kajian atas islam.ketiga, institusi-institusi pengkajian
islam.
Sementara
menurut ahli jerman, Jacques Waardenburg mengidentifikasi tiga pola kerja
berbeda yang masuk dalam ruang studi islam.
Pertama ,kajian normative agama islam dikembangkan oleh sarjana muslim. Kedua ,kajian non-normatif agama islam
dilakukan oleh intelektual Muslim maupun Non-Muslim. Ketiga, kajian non-normatif dari sudut pandang sejarah,literatur,atau
sosiologi dan antropologi budaya,,dan tidak hanya terpokus pada satu perspektif
saja,yaitu studi islam.
B.Objek
Studi Islam
Menurut
taufik Abdullah, agama sebagai sasaran kajian dapat dikategorikan menjadi
tiga,yaitu (1) agama sebagai doktrin.
(2) dinamika dan stuktur masyarakat yang dibentuk oleh agam. (3) sikap
masyarakat pemeluk terhadap doktrin.
Menurut
Moh. Nurhakim ada beberapa aspek tertentu dari islam yang dapat menjadi objek
studi,yaitu pertama, islam sebagi
doktrin. Kedua, sebagai gejala
budaya. Dan ketiga, sebagi interaksi sosial.
M.Atho’ Mudzhar
ada lima bentuk kebudayaan.(1) naskah-naskah (scripture) atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama;(2) sikap,
perilaku dan penghayatan para penganut atau tokoh-tokoh agama;(3) ritus-ritus,lembaga-lembaga
dan ibadat-ibadat agama;(4) aalat-alat atau sarana peribadatan;(5) lembaga atau
organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar